SOLUSI KORUPSI HANYA DENGAN MEMBASMI KAPITALISASI

 

A. LATAR BELAKANG

“Majalah Persiegel sempat merengkin Indonesia sebagai urutan pertama negara terkorup di Dunia.”

“Majalah Economist sempat merengking indonesia sebagai urutan kedua negara terkorup di Dunia”.

“Majalah Political and Economi Risk Consultancy Ltd sempat merengking Indonesia sebagai urutan ketiga negara terkorup di asia”.1

1 “ Gonjang Ganjing Ekonomi Indonesia” Buku Karangan Kwie Kian Gie

Jangan heran apabila pembukaan latar belakang diatas dimulai dengan sederet prestasi Indonesia yang menempati urutan 1,2,dan3 dibidang yang telah mengakar pada sebagian masyrakat kita (korupsi).Sebelum kita membahas mengenai latar belakang mengapa saya mengangkat judul “Solusi Membasmi korupsi hanya dengan menghapus kapitalisasi (dalam hal ini kapitalisasi perekonomian)mungkin yang perlu kita pertanyakan terlebih dahulu adalah “mengapa kita harus menganggap bahwa pencarian solusi untuk mengapus korupsi adalah sesuatu yang benar-benar urgen,hingga perlu diteliti?.Bukankah menurut seorang expert ekonomi indonesia Kwik Kian Gie dalam bukunya “Gonjang Ganjing Ekonomi Indonesia masih sempat menyebutkan bahwa korupsi masih memiliki sisi positif utamanya dalam pertumbuhan ekonomi.Memang tidak sedikit yang menganggap demikian.Tapi,pemikiran itu terlalu subjektif pada masalah yang sebenarnya sangat objektif (kesalahannya),korupsi lazimnya memang merugikan tapi hakikatnya adalah haram.

Sekarang mari kita menjawab pertanyaan sebelumnya !sebenarnya jawabnya singkat saja yaitu karena kita sampai sekarang belum menemukan solusi pasti untuk mengatasi masalah yang satu ini. Meski banyak orng yang ingin memerangi korupsi yang sudah berjamur dan beranak pinak ditengah masyarakat ,dengan silih bergantinya penguasa dinegri kita.Toh!korupsi tidak pernah berkurang bahkan sebaliknya dengan dalih dan metode yang semakin canggaihsemakin lama pelaku yang sudah kasat mata sekalipun sulit diseret kepengadilan ,apalagi tahanan.Kita lihat di Negara kita para koruptor dan penilep BLBI,masih hidup bebas seperti (tarik nafas anda ); Ginanjar Kartasasmita,Liem Sioe Liong, Sofyan Wanandi, Djoko S.Tjandra, Hendra raharja ,syamsul Nursalim, Marimutu sinivasan, Eka Tjipta wijaya, Bustanul Arifin dan sederet nama lainnya yang hanya akan membuana nafas dan kertas ini saja dengan sia-sia.

Melihat fakta dimana kasus korupsi kian parah tanpa satupun solusi yang pasti meski dinegri barat sekalipun .Memang sangat memprihatinkan bahkan seorang guru besar IlmuHukum di Universitas California Amerika Serikat, JOHN NOONAN mengatakan “Tidak ada satu jabatan resmi yang bebas dari korupsi ; Apakah pejabatnya itu Fir’aun , Sri Paus, atau Politisi”.2 Kita telah menyaksikan di negri kita betapa para pelaku korusi tetap masih bisa menghirup udara segar,makan di Restoran megah sementara rakyat mengalami Busung Lapar mereka justru mengalami “Busung Gendut”.Namu Korupsi sekarang ini termodifikasi dengan hal baru yang sulit dijerat secara administratif dan Hukum. Korupsi ditengah masyarakat saat ini ibarat Cintanya “Orang Bisu”: Ada, Nyata, Terasa namun sulit terkatakan.

Terakhir, mengapa penghapusan kapitalisasi perlu ditawarkan sebagai solusi pasti membasmi korupsi. Tidak lain, karena Negara yang akan saya angkat sebagai negara pembanding adalah negara yang berasal dari ideologi yang memang secara tegas melarang korupsi yaitu negara islam, yang menurut salah satu badan intelijent Amerika akan kembali mengibarkan sayapnya (dalam agenda mereka “prediksi tahun 2020”). Padahal Orang Indonesia sendiri yang mayoritas muslim justru menganggap hal itu sebagai sesuatu yang “Utopis”. Sengaja saya tidak membandingkan tingkat korupsi di Indonesia dengan negara lain sebagai solusinya .karena tidak ada satupun negara didunia ini yang benar-benar bebas dari korupsi selama ia memegang kapitalisasi perekonomian. Jadi, untuk apa kita mengadakan penelitian hanya untuk membandingkan korupsi tingkat tinggi dan korupsi tingkat rendah. Bukankah yang namanya solusi itu sejatinya memang untuk menyelesaikan masalah, bukannya hanya sekadar mengurangi. Istilahnya kita selalu mencari obat bukan hanya untuk mengurangi penyakit tapi memang untuk menyembuhkannya.

Pemberantasan korupsi senantiasa menjadi agenda pada hampir seluruh peserta kampanye partai politik,” teorinya ”memang banyak yang ingin membasmi korupsi. Tapi nyatanya pemimpin Indonesia telah silih berganti, korupsi justru semakin terstruktur dari tingkat yang rendah maupun tingkat tinggi, padahal untuk pemberantasannya Indonesia memiliki perangkat yang sangat lengkap serta peraturan perundangan yang dimiliki indonesia pun bahkan mengalahkan negara manapun.

Banyaknya definisi yang tidak statis mengenai korupsi, membuat perilaku para koruptor dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang “Relatif’ (Bisa benar bisa salah ), belum lagi ketika banyak orang menganggap bahwa korupsi masih mengandung manfaat utamanya dalam pembangunan perekonomian. Dengan begitu dunia sepertinya semakin sulit untuk menemukan solusi korupsi .Berbagai cara dan lembaga –lembaga khusus yang dibentuk untuk mengawasi adanya tindak korupsi. Memang benar mengawasi tapi sungguh disayangkan, hingga kini usaha tersebut belum dapat menurunkan rengking Indonesia sebagai negara yang “rajin”menduduki peringkat lima besar sebagai negara terkorup di Dunia apalagi diAsia.

Karena menyadari keadaan yang tragis ini ,untuk itu melalui tulisan ini, saya mencoba menawarkan satu solusi yang kiranya benar- benar dapat membasmi korupsi. Dari kata membasmi kiranya jelas bahwa kita tidak akan mencari solusi dengan denganmengambil sampel dari luar negri, karena tak satupun negara didunia ini bebas dari korupsi (apakah itu pada tingkat kecil-kecilan maupun besara-besaran ).Karena apabila kita mencari solusi untuk memperkecil ataupun mengurangi masalah, bukan tidak mungkin peluang apabila masalah itu sewaktu-waktu akan kembali membesar ataupun bertambah.

Untuk itu pada pembahasan tulisan ini, kita tidak akan membahas mengenai pencarian solusi yang bersifat semu.Melainkan karena dari judul dikatakan “Bagaimana membasmi korupsi dengan menghapus Kapitalisme”, berarti yang harus kita pikirkan sebagai satu solusi adalah dengan mempertimbangkan untuk menerapkan ideologi yang memang tidak akan membiarkan korupsi tumbuh apalagi mengakar seperti keadaan dunia sekarang. Jangan pesimis apabila pembacamenganggap hal itu sebagai sesuatu yang utopis,karena ideologi yang saya maksud adalah ideologi yang pernah berjaya selama 14 abad lamanya dan menguasai dua pertiga belahan bumi ini, itupun runtuh hanya karena penghianatan bukan karena lemahnya keadaan perekonomian, bobroknya moral ataupun kekacauan politik.Sedang kita lihat ideolgi Kapitalis belum seabad lamanya eksis dengan “barat” sebagai pelopornya sudah terlalu banyak menorehkan sejarah mengenai kerusakannya disegala bidang termasuk perekonomian (dalam hal ini lahirnya korupsi)meski hanya sedikit yang dapat dilihat dengan kasat mata.

Sebenarnya salah satu masalah mendasar apabila

kita berbicara mengenai korupsi adalah banyaknya anggapan bahwa definisi korupsi tidaklah statis. Jangan heran para koruptor apabila telah berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan hampir semua berprinsip 3H (HALAL-HARAM,HANTAM!) karena pandangan mereka tentang korupsi adalah relatif kebenarannya relatif pula kesalahannya. Mengenai masalah lainnya dapat dilihat dipoint-point dibawah ini:

1. Apakah definisi –definisi resmi korupsi sudah secara tegas melimit pengertian

korupsi sebagai sesuatu yang nyata penyimpangannya?

2. Adakah korupsi yang disahkan?

3. Mengapa korupsi dikatakan tumbuh subur di negara berideologi kapitalis?

4. Apakah korupsi dominasi negara-negara berkembang?

5. Solusi apa saja yang yang pernah dan akan dilakukan dalam rangka menepis

kemudian mengikis habis korupsi?

Jawaban dari masalah diatas dapat anda

temukan pada bab pembahasan selanjutnya tulisan ini dan yang dibutuhkan hanyalah keobjektifan pembaca untuk dapat menerima solusi yang ditawarkan dalam artian tidak menganggap bahwa penyelesaian korupsi dengan jalan menghapus kapitalisme adalah sesuatu yang mengada-ada tapi memang pantas untuk dipertimbangkan.

II.PEMBAHASAN

A. BERBAGAI DEFINISI KORUPSI

Banyaknya orang yang masih salah paham mengenai definisi korupsi,membuat status korupsi menjadi relatif dan tidak statis ,sebab definisi mengenai korupsi yang beredar saat ini adalah kebanyakan definisi yang subjektif dan fleksible (sesuai dengan maksud-maksud yang dihadapi). Padahal hampir seluruh dari definisi korupsi memojokkan dan menunjukkan dengan sangat jelas bahwa korupsi adalah suatu penyimpangan. Kita ambil beberapa contoh di bawah ini :

1. Korupsi adalah sebagai dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan

yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.

2. Kamus Besar Bahasa Inndonesia, Korupsi adalah penggelapan (Uang negara,

Perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi ataupun orang lain)

3. The Lexicon Webster Dictionary,korupsi adalah berasal dari kata

CORRUPT,CORRUPTED,PUTRID; Influence By Bribery etc.3

4. ”Tingkah laku yang menyimpang dari tugas –tugas

resmi sebuah jabatan negara karena keuntungan

status atau uang yang menyangkut pribadi

(perorangan, keluarga dekat,kelompok sendiri) atau

melanggar aturan-aturan pelaksanaan beberapa tingkah laku pribadi”4

Dilihat dari definisi diatas yang sekaligus mewakili definisi-definisi lainnya, dapat dengan segera dipertanyakan. Mengapa dengan jelas korupsi adalah suatu tindakan yang minus masih saja di subjektifkan keobjektifannya? jawabannya tidakalah lain defisi-definisi diatas adalah definisi konseptual yang hanya dipahami secara parsial mengenai “Baik-burukkah Korupsi Itu? Bukannya memberi pemahaman menyeluruh “Dari mana timbulnya korupsi?, halal haramkah aktivitasnya dan mengapa itu harus dihindari?” dalam hal ini Halal-haram adalah sebagai standar tegas bahwa dengan alasan apapun korupsi tidak boleh dilakukan apalagi dijadikan sebagai hobi.Akibat dari kebingungan dalam pemberian definisi ini ada sebuah sumber5 yang menulis” nilai dari indeks persepsi korupsi sedang didebatkan ,karena berdasarkan survei, hasilnya tidak dapat dihindarkan dari bersifat subjektif, Juga apa yang didefinisikan atau dianggap sebagai korupsi berbeda-beda diberbagai wilayah hukum : sesuatu yang yang dianggap sebagai pemberian tip biasa disuatu negara bisa dianggap sebagai penyogokan di negara lain. Dengan demikian, hasil survey harus dimengerti secara khusus sebagai pengukuran persepsi publik, bukannya satu ukuran yang objektif terhadap satu korupsi.”Dari tanggapan itu sudah jelas bahwa bagaimana korupsi menambah masalah karena tidak dilihat sebagai sesuatu yang objektif secara tegas, sehingga pembasmiannyapun tidak dapat diusut secara tegas hanya mengikuti aturan yang pragmatis dan sesuai kondisi tertentu.Padahal sekali lagi untuk membasmi korupsi dibutuhkan ketegasan bahwa korupsi dimanapun itu dilakukan, bagaimanapun bentuknya dari skala besar ataupun kecil hakikatnya adalah haram, merugikan negara dan menyengsarakan rakyat.

B. ANTARA KORUPSI EKSTERNAL DAN INTERNAL

Antara korupsi Eksternal dan internal dari segi segi dimana atau bagaimana pelaksanaannya memang sedikit berbeda.Pada korupsi eksternal sering didengar istilah:

a. Lagay : uang pelicin dan pembayar bagi catatan dan persetujuan yang seharusnya

gratis,luas,jumlah kecil-kecilnya.wajib pajak yang terkena diuntungkan, tetapi keseluruhan wajib pajak dirugikan.

b. Pemerasan : Si penilai mengancam wajib pajak denganangka yang lebih tinggi, memaafkan ketindakantahuan atau ketidakmauan mereka untuk menyampaikan perkara mereka kepengadilan yang mahal.cukup luas dan secara politik merupakan dinamit.para wajib pajak dirugikan.

c. Arreglo : juru taksir dan wajib pajak berkolusi untuk menurunkan kewajiban

pajak.luas, menyangku jumlah yang besar wajib pajak yang terkait diuntungkan, tetapi wajib yang tidak ikut korupsi dirugikan dan pemerintah kehilangan pendapatan dalam jumlah berjuta-juta peso. Disini Pemerintah dapat menerima penghasilan pajak 50% lebih tinggi apabila ini tidak di berlakukan.

Lain lagi dengan korupsi internal yang menurut sejumlah perkiraan yang dapat dipertanggungjawabkan. membuktikan bahwa berbagai bentuk korupsi internal menyebabkan hilangnya 10 hingga 20% pengahasilan pajak .Contoh jenis korupsi ini adalah sebagai berikut :

a. Penggelapan uang :pegawai menggelapkan dana yang dikumpulkan luas, terutama di wilayah-wilayah. Hilangnya pendapatan negara dengan jumlah yang besar.

b. Penipuan :mencetak materai pajak dan label-label dalam jumlah berlebihan.Tidak

terlampau luas ,tidak terlampau merugikan.

c. Menunda setoran:posisi-posisi basah didalam BIR di alokasikan menurut besar

uang suap. Tersistemasikan merta diwilayah-wilayah .Menyebabkan “Budaya korupsi “di dalam BIR.

d. Korupsi penyidikan-penyidikan internal :para pengumpul pajak mengambangkan dana yang diterima.Cukup luas, kerugian kecil-kecilan.Lembaga pengawasan melekat BIR di buat lumpuh, memperhebat semua masalah korupsi biro tersebut.

Meski bentuk korupsi eksternal dan internal sedikit berbeda namun intinya adalah penyimpangan, sehingga tidak ada istilah korupsi yang disahkan, karena dalam satu pengertian penyimpangan pasti ada beberapa ataupun satu pihak yang dirugikan langsung maupun tidak langsung yang akan meciptakan Chain reaction of Problem.

C. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KORUPSI DAN KAPITALISME

1. PEMICU TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA KORUPSI

Dari pembahasan mengenai korupsi eksternal dan internal sebelumnya,adalah satu fakta, bukan klaim,apabila peluang korupsi memang dimiliki oleh orang yang memiliki jabata atau kekuasaan. Semakin tinggi jabatan seseorang maka peluang dirinya melakukan korupsi akan semakin besar.

Untuk lebih mudah memahami sosok korupsi dengan hubungannya dengan Kapitalisme.”ada sebuah rumusan yang menyatakan bahwa korupsi merupakan suatu Fungsi dari Kekuasaan dan Kewenangan seseorang terhadap satu aktivitas tingkat Good Governance dan tingkat keimanan seseorang “, yang secara matematik dapat digambarkan sebagai berikut :

K = (K + W)- (G + I )

KET : Korupsi sama dengan “Kekuasaan”di tambah “Kewenangan” dikurangi tingkat

“Good Governance”(G) ditambah tingkat keimanan.

Dalam hal ini Good Governance adalah transparansi, akuntabilitas, keadilan dan independensi bagi pengambil keputusan. Sedangkan Keimanan dalam ha ini adalah kesedaran yang amat mendalam bahwa apapun yang ia lakukan akan senantiasa dimintai pertanggung jawaban.

Dari rumus diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa korupsi akan tumbuh subur pada sistem kapitalisme dengan alasan .”Pertama ,sistem kapitalis mengajarkan pemisahan urusan agama dari kehidupan, sehingga yang terjadi adalah ketika kita sedang bekerja mengatur negara dan menjalankan aktivitas lainnya agama harus dicampakkan, karena agama hanya mengatur urusan spiritual saja. Dengan begitu tingkat keimanan sangat diabaikan dalam sistem kapitalisme. Padahal kita ketahui sendiri, tingkat keimanan menjadi salah satu pengurangatau penghalang seseorang melakukan korupsi. Dengan faktor pengurang hanya “good governance”, korupsi akan tetap tumbuh dengan modifikasi baru yang sulit dilacaksecara administratif dan hukum”. Kedua, dilihat dari ukuran yang digunakan para kapitalis dalam memandang suatu kesuksesan. Seperti kita ketahui bersama, orang-orang yang hidup pada idoelogi kapitalis akan dianggap sukses atau sebagai orang berhasil apabila ia dapat menghasilkanincome yang besar. Dengan begitu, seseorang akan berlomba mengumpulkan harta dan ketika mereka telah memiliki kewenangan timbul hasrat untuk memperoleh kekuasaan yang lebih tinggi lagi, dengan berbagai usaha dan salah satunya adalah “korupsi”.

2. KORUPSI TIDAK HANYA TUMBUH DI NEGARA BERKEMBANG

Pernyataan sebelum judul diatas adalah salah satu alasan saya mengapa sampai tidak mengambil teladan dalam menghapus korupsi dari negara-negara maju bahkan pada Singapura sekalipun.Mengingat bahwa tujuan pertama kita pada penyusunan karya tulis ini adalah bagaimana kita mencari solusi yang paling ampuh dalam menghapus korupsi, bukan untuk menguranginya. Kalau kita memang menginginkan kasus korupsi kita sama sedikitnya dengan Singapura (Contoh), mengapa tema karya tulis ini bukan “Mengurangi tingkat korupsi di Indonesia dengan bercermin dari negara lain”. Karena kembali lagi, apabila kita mencari solusi untuk memberantas korupsi maka secara otomatis, tahap pengurangan sebelum benar-benar terhapus akan kita lewati.Tapi, apabila kita mencari solusi untuk sekadar “ mengurangi” sampai akhirnya jika misalnya kita telah sampai ketempat tujuan, kita akan berhenti disitu saja dan tinggal menunggu kapan “korupsi”akan menjadi primadona lagi.

Korupsi memang bukan monopoli negara berkembang, karena menuru survei PERC tahun 2001, tingkat korupsi di Amerika, Australia, Jepang dan Hongkong, lebih parah dibanding dengan Singapura yang tampil sebagai negara paling rendah tingkat korupsinya.

Kita ambil beberapa kasus di Amerika Serikat, si”Kapitalis Sejati” yang merupakan negara adikuasa yang sangat maju.Meski ada beberapa buku yang menganggap Amerika pantas dijadikan contoh dalam hal ini pengurangan tingkat korupsi dengan beberapa alasan .Namun kita mengingat kembali ketika ; Roland Dumas, Albert Fujimori,Felix Estrada dan Peter Mandlesson yang sempat terindikasi terlibat kasus korupsi yang merupakan nama-nama poitisi barat, pada kasus yang sama di Amerika Serikat juga sempat heboh ketika mantan presiden Bill Clinton menghadapi tuntutan publik karena kasus pengampunannya terhadap koruptor March Rich ,seseorang yang sangat di kenal sebagai donatur kampanye Clinton-partai Domokrat. “Yang lebih heboh lagi adalah president penggantinya dari partai Repoblik, George W Bush yang memiliki kabinet setelah mengalahkan lawan politiknya dengan dana 4 milyar dolar AS dalam 2000 kampanyenya.inilah kabinet termahal dalam sejarah AS.7” Dapat kita

bayangkan pengembaliannya bagaimana !.

D. MENGANALISIS AKIBAT-AKIBAT KORUPSI BESERTA SOLUSINYA

Karena Korupsi adalah lazimnya merugikan, maka sudah barang tentu senantiasa menimbulkan berbagai akibat –akibat yang buruk, seperti yang dikutip dalam salah satu majalah politik. Pertama, korupsi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap proses politik dan pemerintahan. Kedua,korupsi mendistorsi pengambilan keputusan pada kebijakan publik dan membuat tiadanya akuntabilitas publik. Ketiga, hukum dan birokrasi hanya melayani kekuasaan dan pemilik modal. Keempat,korupsi menyebabkan proyek-proyek pembangunandan fasilitas umum bermutu rendah dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Terakhir,korupsi mengakibatkan kolapsnya sistem ekonomi karena produk yang tidak kompetitif dan penumpukan beban utang luar negri belum lagi ketika hal ini dimanfaatkan pihak IMF yang hanya menambah beban masyarakat kita.

Dengan melihat dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari praktik korupsi , nampaknya sudah saatnya kita untuk mengetahui solusi apa yang sepantasnya dijalankan agar praktik ini berkurang sehingga benar-benar akan menghilang.Kita melihat usaha-usaha dalam memberantas korupsi sejak berpuluh tahun silam dan tidak ada satupun yang berhasil sehingga timbul pertanyaan “apakah benar undang-undang tak menjamin hilangnya korupsi”? jawabannya memang benar, buktinya pemberantasan korupsi pernah dilakukan pada tahun 1960 dengan memberlakukan “UUD. No. 24 Prp 1960” kemudian diadakannya operasi BUDHI dilanjutkan lagi dengan pembentukan tim pemberantasan korupsi berdasarkan keputusan presiden No.228 th 1967 dipimpin oleh Jaksa Agung dan lagi-lagi karena tidak berhasil diberlakukanlah UU No.3 Th.1971. kegagalannya tidak sampai disitu saja karena ternyata UU itu kembali tidak menunjukkan funsinya dan akhirnya ditambah lagi dengan UU, No.31 1999.Tidak hanya itu saja lembaga-lembaga yang dibentuk khusus untuk mengawasi tindak kriminal spesial yang satu ini juga tidak sedikit,padahal dengan lembaga yang berlapis mestinya korupsi dapat lebih mudah di berangus, karena mereka bisa saling mendukung dalam pengumpulan data bukti kasus korupsi, namun pada kenyataannya seolah-olah lembaga itu berlomba-lomba membagi kapling dan kerjasama yang terjalin bukan bagaimana memebeberkan para pelaku tindak korupsi tapi justru sebaliknya, mereka sama-sama melakukan Cover Up terhadap suatu kasus.

Dengan cara apa sebenarnya korupsi dapat di basmi?. Menurut beberapa tokoh ada beberapa syarat agar kasus korupsi tidak merajalela seperti :

1. Teten Masduki (koordinator badan pekerja Indonesia )mengatakan bahwa “Untuk membasmi korupsi sebagian besar masyarakat harus dilibatkan.

2. Prof. Dr. Selo Soemarjan, Mengatakan bahwa “ Korupsi itusama dengan pelacuran ,tidak dapat diberantas yang ada kita hanya bisa ikut menikmati”.

3. Prof. Dr Daniel Lev ,korupsi telah berakar sejak berlakunya Demokrasi

terpimpin yang tidak akan bisa di berantas tanpa Reformasi instutisional lebih dahulu.7

Kendati pendapat –pendapat diatas mengandung unsur positif dalam rangka usaha memberantas korupsi , tapi semua itu tidaklah cukup dengan pertimbangan :

Apabila kita mengharapkan keikut sertaan masyarakat dalam mengawasi tindak korupsi,akan sangat terlambat karena kita lihat saja kondisi masyarakat kita sekarang, sebagian besar dari mereka sudah tercekoki paham untuk mendiamkan kebiasaan buruk ini.adapun yang masih sering berkoar-koar dijalan jumlahnya terlalu sedikit di banding dengan jumlah seluruh penduduk indonesia. Jadi,untuk mengharapkan masyarakat, perbaiki dulu masyarakat dari moral yang buruk maupun moral yang terkesan tidak peduli, Tapi kembali lagi kita bertanya siapa lagi yang bisa mengurus itu semua? Pemerintahkah? jangan kan urusan moral urusan yang berkaitan dengan kewajiban pemerintah yang harus dipenuhi pada masyarakat saja banyak yang tidak diperhatikan Mengenai tanggapan Dua tokoh terakhir rasanya mereka terlalu pasrah sehingga terkesan tidak bisa berbuat apa-apa lagi .

Padahal seandainya saja para petinggi negara benar-benar ingin membasmi korupsi,mereka bisa tinggal menoleh kesejarah pada penerapan satu ideologi yang benar-benar bebas akan korupsi ,ideologi yang tidak hanya akan berhasil mengikis habis penyakit klasik peradaban kiwari ini tapi juga menutup rapat peluang peluang kearah itu.kalau memang siap untuk diterapkan seorang khalifah ,bisa membimbing masyarakat kearah penyadaran yang menyeluruh dan tidak parsial sehingga mereka dapat difungsikan sebagai pengawas dalam segala tindak tanduk penyimpangan yang ada disekitar mereka dan juga karena kebijakan ekonomi dalam islam adalah jaminan pemenuhan seluruh kebutuhan dasar setiap orang secara menyeluruh serta peluang pemenuhan kebutuhan sekundernya berdasarkan kadar yang mampu dia capai sebagai manusia yang hidup dalam satu masyarakat yang unik dan mempunyai gaya hidup yang khas. ingkatnya, alam pandangan islam ekonomi dioerientasikan untuk manusia (bukan individu tertentu) dan untuk masyarakat(bukan komunitas tertentu), standar kebahagiaan yang ingin dicapaipun tidak dikondisikan untuk mengejar materi tapi lebih pada pencapaian kebahagiaan yang menyeluruh dan tidak semu seperti yang ditawarkan oleh ideolgi kapitalis .Pembaca mungkin menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sangat lama akan tercapai sedangkan kita memerlukan solusi korupsi itu sesegera mungkin untuk dilakukan ,sekarang mari kita balik bertanya telah berapapuluh tahun orang –orang dari ideologi kapitalis mencari solusi untuk masalah ini tapi toh solusinya belum ditemukan juga, sedangkan mengenai kemungkinan berdirinya lagi ideologi islam, desember 2004 lalu ,National Intelligence councils(NIC) telah merilis sebuah laporan yang berjudul “Mapping The Global Future “.Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020,yang salah satunya adalah “A new Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam ,sebuah pemerintahan Islam Global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global barat”8, Nah !amerika telah memprediksi, bagaimana dengan kita? apakah tetap “keep standing on our position”untuk terus mencoba pada pemecahan yang teoritis dan tidak memberikan konstribusi sedikitpun dalam pembasmian korupsi ? ataukah kita berniat untuk menjadi plagiator saja dengan mencontoh negara lain dalam menepis korupsi tapi tidak meyeluruh dan sifatnya semu.

* KESIMPULAN

Korupsi adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dari tugas tugas resmi sebuah jabatan negara ataupun yang berasal dari pribadi seseorang, pribadi karena keuntungan status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan ,keluarga dekat,kelompok sendiri); atau melanggar aturan-aturan pelaksanaan beberapa tingkah laku pribadi.

2. Hakikat korupsi baik dilakukan ditingkat eksternal

maupun internal, dalam skala besar maupun kecil

adalah haram,merugikan negara dan

menyengsarakan masyarakat.

3. Korupsi tumbuh dari negara yang ideologinya memang memberi peluang secara

langsung maupun tidak langsung pada para pelaku untuk melakukan itu dalam hal ini adalah peraturan yang dihasilkannya tidak tegas,subjektif dan berbelit-belit.

4. Kita tidak bisa mengambil solusi dari negara yang

indeks korupsinya jauh lebih rendah di banding

indonesia karena meskipun berhasil ,tapi hal itu tidak

menghapus dari dasar dan sangat berpeluang untuk

kembali besar .

5. Solusi yang sepatutnya dipertimbangkan dalam

rangka membasmi korupsi adalah benar-benar solusi yang menjamin dan tidak memberi peluang terlaksananya korupsi baik dalam skala kecil maupun besar.

6. Hendaknya kita jangan beranggapan bahwa solusi mengganti ideologi kapitalis

dengan ideologi islam adalah sesuatu yang utopis,karena peraturannya yang tegas bersifat menyeluruh ,universal dan tidak menghasilkan kebahagiaan yang semu.

7. Sebagai satu pertimbangan agar kita tidak menganggap bahwa solusi islam adalah

sesuatu yang istilahnya “mission impossible”harus kita ketahui bahwa negara islam adalah negara yang pernah menguasai 2/3 benua ini (kecuali Amerika dan sekitarnya) selama kurang lebih 14 abad lamanya dan runtuh hanya karena sebuah penghianatan.

By. AYU Najelica

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: